Sumpah pemuda yang patah hati

by - 10:55 AM

Hari ini 28 oktober, hari sumpah pemuda. Hari yg punya banyak sejarah serta konon dihormati setiap orang direpublik ini. Aku berpikir keras tentang makna dari kata "Sumpah", apa sumpah sama seperti janji yg pernah aku ucap bersamanya dulu. Heuheuheu. Hampir mirip tapi dengan substansi yang berbeda agaknya.

Aku merasa dihari ini, kita semua, pemuda indonesia belum seutuhnya merealisasikan sumpah leluhur kita dahulu. Mengingat dari tiap kalimat sumpah pemuda dan kenyataan yang ada, sumpah pemuda menurutku kini hanya bualan dan omong kosong belaka. Maaf jika sedikit kasar, tapi begitulah adanya. Realisinya dalam kehidupan begitu minim (sekali).

Kalimat pertama : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
Disana jelas kita baca, bahwa leluhur kita dulunya telah berani mengaku bertumpah darah satu, tanah air indonesia. Itu artinya kita, anak cucu mereka adalah bagian dari republik yang diperjuangkan susah payah ini. Bicara perjuangan, maka aku akan ingat lagu dari band Last Child dengan judul "Tak pernah ternilai". Aku hanya membayangkan Soekarno dkk. menyanyikan lagu itu dengan suara beratnya, "Setidaknya diriku pernah berjuaaaaaang, meski merdeka namun akhirnya kalian lupa". Ah, sudahlah bung. Saya sih no, liriknya salah.

"Kita adalah pemilik sah republik ini", begitu kira kira puisi dari uda Taufiq Ismail. Ya, itu benar sekali. Kita disini bukan sekedar numpang hidup, numpang cari makan, atau numpang bersenggama. Meskipun dalam puisi itu disebutkan bahwa kita adalah manusia bermata sayu, tapi memang begitu adanya. Kita adalah bagian dari ketidakmakmuran republik kita ini. Meskipun demikian, ketika bangsa ini merdeka, kemerdekaannya juga milik kita juga, kemakmurannya adalah kemakmuran kita juga.

Tapi apa yg terjadi ketika bangsa ini mengalami kemunduran, kita semua angkat tangan dan saling menyalahkan. Jauh dari apa yg diharapkan leluhur kita dulu. Jauh.... Jauh......sekali. Atas semua itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kita belum seutuhnya mencintai negeri ini. Maka, ketika bangsa ini bertanya ala film Hollywod "Do you love me ?", jangan buru-buru kita jawab "I do". Jangan berbohong, aku baru dikhianati dan rasanya sakit sekali, duh curhat.


Beralih dari kalimat pertama, kita memiliki kalimat kedua : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. 
Dari zaman SD dulu, kita sudah tahu bangsa ini punya semboyan "Bhinneka tunggal ika", berbeda beda tapi tetap satu. Konon semboyan ini diadopsi dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Aku, dia dan mereka jua tahu makna dari kalimat sakral tersebut. "Walaupun kita berbeda suku, bahasa, budaya, ras dan agama, tapi kita semua adalah orang indonesia, kita sama".Itu jawaban adek sepupuku yang masih kelas 3 SD dan diliburkan sebab asap. Ya, kita tahu itu semua, tapi apa realisasinya ? Dihari ini masih sering kita temui bentrokan antar suku, kampung, pelajar dan bahkan kegersangan hubungan umat bergama. Apa itu realisasinya ? Tanyakan pada hati para pemuda yg sudah patah


Kita lanjut pada kalimat ketiga : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ini yang paling mudah dipahami tapi juga susah dilakukan pada masa globalisasi ini. Dimana bahasa asing menyerbu kepala kita semua sehingga kita lupa bagaimana cara berbahasa indonesia yg baik dan benar. 

Aku ingat mantanku yang berinisial WD bicara padaku disuatu sore, "Aku gak mau belajar bahasa asing. Aku mencintai bahasa indonesia seperti aku mencintaimu, akan selalu bersama."Kira-kira begitu ucapnya. Pagi ini ketika ingat kalimat ketiga sumpah pemuda aku langsung teringat padanya. Kini dia telah meninggalkanku, sudah tidak mencintaiku, sudah tidak mencintai bahasa indonesia. Pakai bahasa apa dia dengan pacar barunya ? Aduh, flashback 

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA !

You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian