Akhir drama motoGP dan senyuman Tatjana Saphira

by - 8:09 PM

Jorge Lorenzo dengan senyuman kemenangan
Foto : Tribunnews
Musim motogp 2015 telah usai dengan berbagai kejutannya, meskipun tak semeriah kejutan yang diberikan gebetan untuk bisa dapetin kamu, girl. Tapi sebenarnya banyak hikmah yang bisa kita ambil dari motoGP musim ini, selain sikap berlapang dada. “Kau harus bisa, bisa berlapang dada, kau harus bisa, bisa ambil hikmahnya....”. Mudah-mudahan ValeYellow46 (Bukan dijahyellow) tak pernah tahu tentang lagu ini.

Dalam menulis postingan ini aku sadar aku bukanlah pengamat olahraga, pembalap apalagi. Aku hanya pengendara motor tua dengan sekaliber eksotisme sejarahnya, memodifikasinya agar lebih elegan tanpa sedikitpun sikap arogan. Aku menamai motorku dengan nama Monny T. Yusmartin, namanya lebih bagus ketimbang nama ibuku. Monny punya dapur pacu Honda, raksasa jepang, mungkin juga berpengaruh padaku yg menyukai Doraemon, Sora Aoi, dan serial Detektif Conan.

Ayahku pernah memprotesku menjadi fans dari Valentino Rossi yang notabenenya adalah pembalap pabrikan Yamaha, bukan Honda. But it’s not about machine, its about how ride. Ayahku berpesan “Jadilah penonton balap yang bijak, yang ndak nyalahin lawan curang kalau lagi kalah”. Ya, disini poin terpentingnya, bagaimana berlapangdada atau bersikap legowo. Tapi dimusim ini, banyak hal yang sekiranya perlu dibenahi dari motoGP, atau mungkin dari pembalap atau penonton motoGP. Musim ini bagiku adalah musim paling tak bisa kuprediksi selama aku mulai menonton acara balapan ini sejak bangku SD dulu. Entah siapa sutradaranya, entah James Cameroon, Stephen Spielberg, atau mungkin Riri Riza. Entahlah, yang jelas trio Spanyol dan kakek tua Italia bermain lumayan apik disana. Yang mengherankan bagiku adalah meskipun kakek tua dari Itali mendapat peran Antagonis disana, tapi dia tetap dianggap baik oleh penonton. Inilah yg membuat sinetron motoGP tidak kuberi bintang lima, penempatan kakek tua itu gagal, harusnya publik menganggap dia seperti karakter Bernard atau Owen Shaw dalam franchise Fast and Furious, benar-benar jahat dan membuat publik benar-benar membenci mereka diluar ataupun didunia nyata.

GP Valencia bagiku begitu mendebarkan, mengingat kakek tua dipojokkan paling belakang tapi akhirnya bisa mencapai nomer empat, toh penggemar kakek tua tetap Calm and stay cool meski cenderung kurang realistis, tapi ah sudahlah kakek tua itu tetap juara dimata banyak orang. Dimataku yang empat dia juga juara, pakai umum lagi. Bayangkan kalau motoGP pakai terima raport dengan hadirnya orang tua, tentulah orangtua kakek itu tidak terlalu berkecil hati menimbang skill anaknya memang diatas rata-rata. Sambil pakai senyuman, orangtua kakek itu, tersenyum pada wali kelas anaknya sambil berucap “Aku rapopo”, seraya mengelap air matanya pakai tisu bermerek Paseo.

Kemarin aku menonton GP Valencia bersama pamanku, dia hanya tamat SMA dan tak pernah bercita-cita jadi sutradara. Ucapannya sungguh bijak. Mungkin jika Mario Teguh mendengarnya bicara, dia akan mengubah acaranya yang berjudul “The golden ways” menjadi “The silver ways” dengan mempertimbangkan kecakapannya dalam bicara.



Jangan bilang aku taken sama dia, itu fitnah tapi kalau beneran juga gapapa.
Foto : Youtube
“Aku kira orang Indonesia aja yang bisa curang, ternyata Spanyol juga punya skill yang relatif sama”. Aku hanya tersenyum, tapi aku sadar senyumku tak semanis senyum Tatjana Saphira dalam klip lagu yang kunyanyikan diatas. Semoga kita semua berlapang dada, dan mengambil hikmahnya.

You May Also Like

2 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian