Kajian keseriusan oleh Irfan H Yusmartin

by - 7:38 PM

Aku lelaki yang tak bisa serius, untuk hal apapun selain ibadah, hubungan dan perasaan. Kadang ini jadi berkah, kadang juga musibah. Tapi bagiku, bersikap serius itu sebuah kepalsuan. Banyak jiwa yang sebenarnya berharap lelucon atau hal lucu, tapi harus tidak mewujudkan harapannya karena dipaksa bersikap serius. Maka bagiku pribadi, bersikap serius adalah kepalsuan yang menjadi rahasia umum. 

Dinegeri Jancukers, negeri yang tak pernah benar-benar ada, perundang-undangan disana melarang bersikap serius. Sebab bagi rakyatnya, serius adalah mengada-adakan emosi yang sebenarnya tak ada. Seperti diindonesia, ada kasus rekening fiktif, PNS fiktif juga pernah ada berita fiktif, berita yang dibuat media online demi kebanjiran pengunjung. Maka government Republik Jancukers mengharamkan sikap serius agar kepalsuan pada bangsanya dapat ditekan sebisa mungkin.

Kenapa aku hanya serius soal ibadah, hubungan dan perasaan ?
Ibadah itu menyangkut keberadaanku sebagai makhluk dan penciptaku (khaliq). Lebih dari itu, ibadah adalah tuntutan yang ada pada tiap agama manapun. Dan bagaimanapun, tiap orang yang beribadah dan punya akal sehat tentu tak ingin ibadahnya dipenuhi guyonan meski tahu tuhan maha guyon. Masa pas ibadah kamu becanda dan cekikikan bareng jamaah lain disampingmu, ketawa kan menular, siapa tahu nanti jamaah dirumah ibadahmu itu semuanya ketawa. Nanti kamu gak jadi ibadah, malah ngundang Dodit Mulyanto buat cerita soal jantung koronernya.

Soal hubungan, aku tahu mencari pasangan itu sulit. Pakai "Sekali" bila ngobrol dengan jomblo stadium empat. Aku juga termasuk lelaki yang susah pakai "sekali" dalam soal mencari perempuan yang cocok untuk sekedar kupacari. Dengan alasan yang cukup kuat itu aku selalu ingin serius dalam hubungan. Serius aja, kalau becanda mana tahu nanti hatimu pula yang kena. Kena anu, kurma. Eh, karma. Siap-siap ya.

Tentang perasaan, ini soal hati. Percayalah, kata afgan pada Raisa, bahwa hati mempengaruhi apapun yang kamu lakukan. Toh, tulisanmu akan centang perenang bila tidak kamu tulis dalam keadaan mood yang baik. Fotomu akan jelek bila kau dipotret dalam emosi yang gak karuan. Dan kamu lebih beresiko mengalami kecelakaan bila kamu berkendara usai diputusin pacar dan pulang dengan tangisan tersedu-sedu. Tulisan "Pulang malu, tak pulang rindu" dibelakang truk akan kau baca sebagai "Putus malu, ga putus dibuat sedih mulu". 

Atau seperti Miss Universe 

👨 "Mau kah kamu jadi pacarku?" 

👧 "Mau!"

(semenit kemudian) 

👨 "Maaf, ada kekeliruan. Maksud saya nembak teman kamu" 



Irfan H Yusmartin


Calon menantu amak pajie tu 

You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian