Surat terbuka untuk ibu dari anak-anakku suatu saat nanti

by - 7:32 PM

Selamat hari ibu, ibu untuk anak-anakku suatu hari nanti. Aku menulis surat terbuka ini dimalam hujan, 22 desember 2016, bertahun-tahun sebelum kita hidup bersama atau sekedar membuat anak. Kutulis dalam keadaan sendiri, dalam keadaan menjomblo usai ditinggal salah seorang seniormu sebab aku tak lagi asyik seperti dulu.

Sayang, aku menulis ini sejatinya bukanlah untuk sekedar menasehatimu. Lebih dari itu, aku ingin mengisi blog ku yang sudah lama kubiarkan sepi, seperti hari-hari aku sebelum bertemu dan mengisi hari-hari dengan bahagia bersamamu.

Siapapun kamu suatu saat nanti, perempuan biasa, ustazah, bekas simpanan om-om, atau janda beranak tiga, percayalah aku melakukan penerimaan atasmu dengan sepenuh hati tanpa melihat bagaimana kegilaanmu dulu. Barangkali, hidup adalah melulu tentang didahului, barangkali.

Bila kita kelak rahimmu diisi benih cinta kita berdua, setiap malam aku akan menemanimu membaca surah an-nisa, surah dalam Al-quran yg konon membuat anak lebih cerdas dan baik akhlaknya. Bagaimanapun kita ketika aku menulis surat ini untukmu, aku ingin anak kita lebih baik dari ini. Aku ingin hari ibu dirumah kita tak melulu cuma hari ini, tapi sepanjang hari dia menemani dan menghormati kita seakan-akan setiap harinya adalah hari ibu.

Bila anak kita lahir, aku akan disampingmu. Aku akan berlaku seolah-olah aku merasakan sakitmu melahirkan buah hati kita. Aku akan bersiap dengan suara jelekku untuk melantunkan adzan paling ganteng seumur hidupku. Aku akan disampingmu, tanpa siaran LIVE di tipi seperti Nagitha-Raffy atau Anang-Ashanty yg pasti.

Kalau lahir, aku akan memberikan nama dengan awalan Nick. Bila laki-laki, akan kuberi nama Nicholas, dari nama Nicholas Tsar, kaisar terakhir Russia. Bila perempuan, akan kuberi nama Nikita Mirzani. Ga jadi, aku becanda soal nikita mirzani. Terserah kamu aja, pokoknya Nick. Supaya apa ? Supaya ada unsur Nicklodeon, channel kesukaanku. Aku rela bangun subuh demi menonton Nick di Global tipi ketika subuh dulu, dan aku ingin dia bangun subuh setiap harinya. Supaya apa ? Supaya dia tidak meniru tabiat ayahnya yg mudah dibangunkan anunya saja. Amiiin.

Bila kelak dia mulai belajar berjalan dan dia jatuh kelantai sampai dia menangis, jangan sesekali kamu memukul lantainya. Aku tak ingin anak kita tak sadar diri. Dia yg salah, malah memutarbalikan fakta bahwa lantai yg salah. Ini penting, sedari kecil kita didik dia agar tak menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Agar pepatah "Buruk rupa, kamera yg salah" tak terjadi pada anak kita. Btw, dia harus tau C360 atau B612 loh, siapa tau dia kurang beruntung soal tampang. Hehe

Bila dia besar dan sudah bisa kita suruh-suruh, jangan pernah beri imbalan atas bantuannya pada kita. Kenapa ? Korupsi bisa lahir dari sana. Kita harus mendidik anak kita supaya dia tulus. Kalau dia tulus, dia akan menunggu "1000 tahun lamanya" sebelum sempat "Pamit" dan menciptakan "Ruang sendiri". Kalau mau beli garam, kita bisa order via go-jek. Syukur-syukur kita tinggal dikota besar. Kalau dipelosok yg nyari jaringan Edge saja harus manjat atap gimana ?

Duh, aku udah capek ngetik surat buat kamu nih. Dimanapun kamu sekarang,  atau bisa jadi belum lahir dan masih dalam proses penciptaan, semoga kamu dalam lindungan tuhan yaa.

Selamat hari ibu untuk calon ibu dari anak-anaku

Irfan Hidayat Yusmartin


Bakal calon menantu amak pajie tu

You May Also Like

1 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian