Kita adalah tahanan untuk diri kita sendiri

by - 8:29 PM

Sore tadi, kira kira pukul lima, aku duduk dipinggir jalan sambil memperhatikan orang-orang lewat. Aku duduk sendirian sambil menghisap rokok dan sesekali menyapa orang-orang yg kukenal. Lebih kurang lima belas menit aku duduk, sirine mobil polisi bersahutan, Aku memperhatikan rombongan mobil polisi tersebut. Ternyata, iring-iringan polisi tersebut berbarengan dengan mobil tahanan. Dari berita yang aku baca, 400 lebih tahanan dikota Pekanbaru kabur, sebagian telah ditangkap kembali dan sebagian lagi masih dalam pengejaran. Tahanan yang kabur, dipindahkan ke LP lain dikota Pekanbaru atau sekitarnya.

Mobil tahanan itu berwarna cokelat. berbentuk mobil box. Ditengah box mobil tersebut, ada semacam ventilasi berbentuk persegi panjang. Dari ventilasi itu, memungkinkan melihat keluar mobil atau sebaliknya. Diventilasi itu, aku melihat pemuda, mungkin usianya 20 tahun, lebih kurang, melihat keluar mobil dengan wajah sayu, dengan raut muka sedih. Aku merasakan feel dari pemuda tersebut. Ada kesedihan mungkin juga penyesalan dari wajah pemuda tersebut. Perasaan dan keinginan untuk hidup normal kembali. Sepanjang jalan, aku melihat pemuda itu tetap melihat kearah luar, dari ventilasi itu. Mungkin saja, lebih kurang 36 jam yang lalu, ketika dia kabur dari penjara, dia berpikir dia akan bebas. Dia ber-ekspektasi bahwa kejahatannya akan dilupakan begitu saja oleh aparat. Sayang, ekspektasi itu dipatahkan oleh penangkapannya kembali. Ironis memang, tapi bagaimana lagi, kebebasan selamanya akan menjadi hal utopis. Hal yang takkan pernah digapai siapapun, bahkan orang-orang yang tak dipenjara sekalipun, sejatinya tak pernah memiliki kebebasan yang mutlak.
Source : Freephotosbank

Aku pernah bersekolah dipondok pesantren tempat yang aku anggap tak ada ubahnya seperti penjara. Orang-orang bilang penjara suci, tapi aku merasa kesuciannya kadangkala dirusak oleh hal-hal yang tak ada hubungannya dengan tujuan pendidikan itu sendiri : HAWA NAFSU. Dipesantren dulu, selama 3 tahun aku merasa diriku tak ubahnya seperti tahanan. Hak-hak personal diganti dengan hak kolektif tanpa mempertimbangkan apakah prosedur itu berjalan dengan baik ? Apa aku anti pada hal yang punya embel-embel kebersamaan ?, NO. Aku mungkin sama seperti tahanan yang aku liat sore tadi, merasa rindu pada kebebasan. Ketika kebebasan dicabut, ada konflik dengan bathin sendiri. Konflik yang membuat sipapun murung, dan meringis dalam hati. Hanya ingin hidup tanpa paksaan untuk melakukan atau menuruti hal yang tak kusukai.  Ketika melihat wajahnya yang murung dibalik ventilasi mobil tahanan, aku merasa melihat diriku yang dulu. Seperti menemukan puing-puing ingatan yang seharusnya sudah hilang, puing itu sedikit menggores perasaan. Oke, anggap saja puingnya puing gelas kaca atau apalah yang bisa menggores. Pokoknya sedihlah.

Aku berpikir, manusia tak pernah bebas. Apapun ideologinya, orang-orang liberal sekalipun, kebebasan mereka hanya dalam ruang lingkup tertentu. Keluar dari ruang lingkup itu, kebebasan itu lamat-lamat hilang karena sebab tertentu. Apa aku ngomong asal-asalan ? Buktinya, kita perlu kekuatan untuk melakukan sesuatu. Siapapun didunia ini, punya tuan. Ketakutan pada tuan tersebut membuat gerak dan langkah orang tersebut tak selamanya sinkron dengan apa yang diinginkannya. Remember, aku barusan bicara tuan, bukan tuhan. Aku pribadi, tak bisa berbuat se-mauku. Orangtua adalah tuan, demi memenuhi hasrat psikologisnya sebagai orangtua, aku harus tunduk agar namaku tak dicoret dari kartu keluarga. Atau lebih parahnya lagi dikutuk menjadi batu.

Bila kita bicara tuhan, tentu kebebasan lebih nyata hilangnya. Bagi mereka yg terbiasa hidup dengan para ekstremis berkedok agama, akan tau bagaimana mereka bertindak atas nama agama mereka. Dulu ketika dipesantren aku dipukuli dan dimaki atas nama mendidik, lillahi ta'ala. Maka dengan alasan itu, mereka merasa bebas melakukan segalanya. Merasa tindakan keji mereka seolah-olah diberkati tuhan. Sebenarnya ? Apa iya tuhan itu ? Memperbolehkannya ?

Aku berasumsi, agama adalah penjara yang baik bagi mereka yang mempercayainya. Aku tak ingin menjelaskan ini sedetail mungkin. Bicara lebih banyak, aku takut dibui dengan cap penista agama dan dituduh Ahokers. Padahal aku dukung Anies, anaknya cantik, kuliah di FH-UI lagi. Duh.

Agama manapun pasti punya aturan yang membatasi tindakan penganutnya. Masih berpikir kita bebas ? Oke, stop talk about religion. Mari kita ngomong soal cinta, hal yang paling menjual dan punya nilai ekonomi terbaik sedunia. Kalau kamu punya pacar, aku berani bertaruh, sedikit atau banyak, dia akan larang ini itu, minta ini itu. Pernahkah kamu berpikir bahwa pasangan telah menghilangkan sebagian dari kebebasanmu ? Kadangkala, dikekang itu menyenangkan, bukan ?

“Cinta itu penjara dengan kerangkeng kasih sayang, maka kamu sering menangis tanpa merasa dibui.”-Sujiwo Tejo



You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian