Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak dan Semangat Feminis Wanita Sumba

by - 11:37 AM

Beberapa bulan lalu, ketika membaca berita tentang film ini mengikuti ajang festival Film Cannes, saya penasaran dan langsung berpikir bahwa film ini akan menjadi film yang menarik dan tentunya memberikan progress yang oke. Ditambah lagi beberapa bulan selanjutnya, film "Marlina the murderer in four acts" mengikuti ajang festival lain seperti New Zealand International Film Festival dan Melbourne Film Festival pada Agustus 2017, Toronto International Film Festival dan Festival international du Film deFemmesde Sale (FlFFS) Maroko pada September 2017, SitgesFantasticFilm Festival, Busan International Film Festival, dan QCinema international Film Festival pada Oktober 2017. Belum lagi Mouly Surya yang menyabet penghargaan sebagai penulis skenario terbaik pada festival FIFFS Maroko, serta Marsha Timoty yang mendapat penghargaan sebagai aktris terbaik pada festival Sitges, mengalahkan Nicole Kidman. Saya langsung berpikir, "Wah, ini bakal jadi film Indonesia yang paling bagus yang pernah saya tonton".
Kuda-kudaan yuk

Ekspektasi tersebut memang terbayar lunas ketika menonton film ini, tadi malam. Film ini memang bukan diangkat dari kisah nyata, tapi film ini membuat apa yang saya saksikan seolah-olah nyata. Seolah-olah saya merasakan apa yang dialami Marlina. Sebatang kara ditengah hamparan padang savanah, begitu hak dan kebebasan dirampas, tidak ada kata lain selain lawan. Begitu juga scene yang ada difilm ini, meskipun mengandung konten explicit, menurut LSFI, film ini masuk kategori 17+, kritik-kritik sosial juga terasa. Bagaimana ketika Marlina berada dalam kantor polisi, juga ketika BAP Marlina diketik. Kritik itu ketara sekali. Bagaimana prosedural pelaporan kasus pemerkosaan juga dikritik, serta akses kesehatan di pedalaman, bagaimana visum harus menunggu berbulan bulan, bagaimana kunjungan ke TKP harus menunggu berhari-hari, terasa seperti Esai professor untuk pemerintah. Film ini memang juara.

Tokoh-tokoh yang ada dalam film ini juga tampil memukau, bagaimana Novi (Dea Panendra) bermain apik dalam memerankan wanita hamil 10 bulan, juga Frans (Yoga Pratama) yang berperan sebagai tokoh antagonis bisa berperan layaknya penjahat kelas anak bawang. Alur film ini pun terasa cukup mudah dipahami, tidak muluk-muluk.

Satu hal yang dapat saya tarik, bagaimana film ini menyiratkan nilai-nilai feminisme dan kesetiaan Marlina pada suami yang sudah berbentuk mumi dipojok ruang tamu. Film ini seolah-olaah menyiratkan bahwa lelaki bisa dipatahkan begitu saja ketika sudah terlena dengan wanita. Scene kepala Markus dipenggal ketika sedang berada dalam posisi women on top juga membuat saya terkagum pada ide dari pembuatan film ini. Bagaimana perjalanan Marlina ber-jam jam menyusuri savannah Sumba, untuk melaporkan perampokan sekaligus pemerkosaan ini. Juga ketika bagaimana ketika Marlina sudah berhasil membunuh 5 perampok, dia merasa gundah sambil memeluk mumi suami sambil melihat bintang. Rasanya gimana ya?

Tetapi kekurangannya, produser film ini tidak membuat melodi sasando Markus menjadi memorable, bila saja melodi itu bisa terngiang-ngiang dan tidak terlupakan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, pastilah film ini akan menjadi film spektakuler. Penonton akan teringat bagaimana kepala Markus yang dibawa Marlina kemana-mana. Bagaimana Markus tanpa kepala mengikuti Marlina kemana saja. Tentu ini akan membuat film ini menjadi sangat sangat sempurna.

MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK
MARLINA THE MURDERER IN FOUR ACTS

4/5

You May Also Like

1 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian