Review Dilan 1990: Dilan yang Kehabisan Kata-kata karena Trailer

by - 12:22 PM

Hello, its me...
I was wondering if after all these years
You'd like to meet, to go over everythig

Kiranya lagu itu bisa dijadikan soundtrack untuk film Dilan. Maklum, kisah berlatar masa lalu perlu kita beri prolog "apa kamu masih ingat saya?". Begitu, agar masa lalu tidak melulu urusan airmata, tapi kadang ada tawa kecil yang dirindukan.

Dilan sendiri bercerita tentang masa lalu, tentang apa yang sudah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu, dikemas dan dijual bertahun tahun lalu, laku keras, dijual dalam bentuk yang berbeda lagi hari ini, dan laku keras lagi. Apa Dilan memang semenarik yang dikatakan orang-orang? Belum tentu, jika yang menarik bagi kamu bukan tokoh yang kaku, bukan bad boy, bukan orang dengan selera humor diluar standar.

Kemarin meet and greet ga?


Novel pertama Dilan, Dilan: Dia adalah dilanku tahun 1990 terbit pertama kali April 2014. Ketika itu, novel Dilan laris manis, kemudian terbit lagi dilan 1991, sekuel dari Dilan 1990, sebelum Milea: Suara dari Dilan terbit. Beruntung ketika itu, saya punya kesempatan membaca novel dilan. Sehingga saya bisa meraba-raba lewat imajinasi saya bagaimana dilan si panglima tempur geng motor Bandung pada tahun 1990. Ditahun 2015, si Diah meminjamkan novel Dilan 1991 untuk saya khatamkan. Rasanya puas terhadap apa yang disajikan novel tersebut. Tapi kalau film, nanti deh saya ceritain dan review Dilan 1990.

Setiap orang punya kemampuan imajinasinya sendiri, ada orang yang imajinasinya lebih kuat daripada kemampuan visualnya, orang tipe ini lebih suka membaca ketimbang nonton. sebaliknya ada orang yangpunya kemampuan visual mantap tapi sama sekali tidak menikmati imajinasi, orang tipe kedua ini bisanya nonton film, tapi ga suka baca. Ada juga orang yang keduanya bagus, visual dan imajinasi kuat, mereka cenderung suka membaca dan nonton. Saya mungkin adalah orang tipe pertama, imajinasi lebih kuat daripada menyaksikan karya visual. Itu sebabnya saya sering cenderung kurang puas dengan film yang diangkat dari novel yang sudah saya baca.

Soal film dilan, film ini mungkin bagi sebagian orang bagus sekali. Bisa karena kemampuan visual yang bagus, bisa karena belum membaca novelnya, bisa juga karena fans Iqbaal Ramadhan, bisa juga karena menganggap Vanesha Prescilla (Maaf kalau tulisannya salah), serupa Gal Gadot. Apapun alasan kamu, kembali lagi ke selera. Tapi bagi aku pribadi, film Dilan 1990 bukanlah film yang benar-benar bagus.

Film ini diawali dengan Milea Dewasa yang duduk didepan laptop, menulis prolog tentang dirinya, menampilkan foto masa lalu keluarga Milea. Kemudian ada scene Dilan dengan Honda CB gelatik menghampiri Milea yang berjalan kaki, "Hai, Kamu Milea ya?. Aku ramal nanti kita ketemu dikantin,", juga scene surat "Ramalanku meleset". Come on, dude! Beruntung kalau kamu tahu kalau sedang menonton film Romance, kalau tidak tahu, mungkin kamu akan mengira bahwa kamu sedang menonton film thriller atau horror, rasanya dinovel ga begini~

Sepanjang film, jangan berharap ada konflik yang intens dan bikin penasaran. Semua orang akan berpikir, "Dilan adalah solusinya", sehingga bagi penikmat film yang suka banget sama konflik tidak akan menemui klimaksnya dalam film ini. Semua bagian dari film hanya bercerita bagaimana hebatnya Dilan tanpa ada masalah sedikitpun antara Dilan dan Milea.

Jangan berharap pada quotes yang ada di trailer, quotes sakti mandraguna semuanya ada ditrailer. Di film, quptes-quotes yang ada dinovel hilang begitu saja. Mungkin sutradaranya memang tidak ingin quotes itu ada karena keterbatasan waktu. Wong segitu aja 1 jam 50 menit. Tapi sayangnya beberapa bagian penting dan nyelekit, yang seharusnya bikin Dilan jadi keren tidak ada di film, alhasil, pembaca novelnya akan senyum kecut, merasa dilan tidak sesuai dengan imajinasinya.

Nonton itu menyenangkan, jika bagimu tidak, berarti kamu salah pilih film.

Dilan 1990

3/5



Bonusnya nih, jaman mention surayah masih besar harapan buat dibales :D

You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian