Mengeja Sesal

by - 11:06 PM

Diluar hujan, tapi udara masih terasa agak panas. Apa-apa yang ada sekarang belum tentu menjadi pengubah apa-apa yang ada sebelumnya. Malam ini hanya ada segenggam pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, bukan segenggam juga rasanya. Ada begitu banyak pertanyaan dikepala yang dibiarkan tidak terjawab, seperti anak-anak yang bertanya pada orangtuanya ketika ada pengeboman ditempat ibadah, tuhan kemana? Begitu rasanya pertanyaan itu dibiarkan tidak terjawab, sebelum waktu mengambil alih tugas pemberi jawaban.

sebats dulu



"Apa yang lebih perih daripada kehilangan?", seorang perempuan bertanya padaku lewat chat satu atau tahun lalu.

"Penyesalan...", jawabku.

"Bukankah penyesalan seringkali lahir dari kehilangan?", perempuan itu bertanya lagi.

"Sering, tapi tidak selalu. Penyesalan tumbuh dari semua perasaan..".

"Tapi aku hanya menyesal ketika aku kehilangan...".

"Kelak kau akan menyesal ketika kau terlambat menemukan sesuatu".

"Apa contohnya?".


.



.



Percakapan itu berakhir disitu, aku tidak membalasnya sampai bertemu dengan seseorang sebulan setelahnya.


"Aku menyesal terlambat menemui perempuan ini...", tulisku lewat pesan singkat


Perempuan itu tidak memberikan balasan ketika itu. Namun, seminggu kemudian perempuan itu membalas pesanku dengan bentuk yang tidak biasanya. Kabar duka beredar bahwa perempuan itu meninggal karena sakit Tifus. Aku datang ke pemakamannya, membawa seikat bunga Aster, bunga kesukaannya.

Kadang aku bingung kenapa keterasingan membuat kita lebih berpikir. Membuat kita lebih berusaha keras memahami apa yang tidak bisa kita pahami lewat gelak tawa. Seminggu setelah kematian perempuan itu aku datang lagi ke pemakamannya, membawa bunga Krisan, bunga yang paling dibencinya, namun paling aku suka. Aku tahu dia benci bunga itu, aku sengaja membawakannya agar dia marah dan menghantuiku, lalu aku bisa minta maaf tidak membalas pesannya sebulan sebelum kematiannya. Tapi dia tidak menghantuiku, mungkin dia baik atau dia sudah terlalu jijik dengan laki-laki yang sok sibuk dan tak cukup waktu

Setelah hal itu terjadi, aku lebih banyak menyendiri. Dirumah, dikampus, dimana saja aku lebih suka menyendiri. Aku hampir selalu berpikir bagaimana cara berbicara pada orang mati, atau paling tidak bisa berkomunikasi satu arah dan bilang maaf. Tapi pikiran terseebut perlahan hilang karena pikiran lain, kenapa cinta tak pernah tepat waktu, seperti kata Puthut Ea.


You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian