Unforgettable Trip to Padang #PART1

by - 2:01 PM

Perjalanan kadangkala menjadi menarik atau sebaliknya. Bisa tidak terlupakan atau sebaliknya tidak meninggalkan kesan. Tapi perjalanan ke Padang kali ini memang menyisakan banyak hal dalam ingatan, selain bertemu dengan Charles yang aku ceritakan di Persahabatan lintas usia dan benua. Perjalanan ke Padang ini memang berbeda. Bukan karena padang hari ini sudah ada Transmart, tapi lebih pada bagaimana di Padang dan sepulangnya dari Padang.

Salah satu cafe yang ada di Kinol, Padang


Ini entah kali keberapa aku ke Padang. Lupa persisnya. Tapi kunjungan kali ini lebih membekas di ingatan. Ini kali pertama aku benar-benar merasa menjadi backpaker. Haha. Travelling ke Padang kali ini bersama Apid, teman sekos yang sudah seperti abang sendiri, hehe. Perjalanan ini kami tempuh dari Pekanbaru menggunakan mobil Travel dari salahsatu PO yang ada di Pekanbaru. Driver mobil Travel yang kami tumpangi masih muda, darah mudanya tersebut yang mengantarkan kami dengan ugal-ugalan. Ugal-ugalan tersebut yang membuat kami cepat sampai sekaligus uji nyali dan membangkitkan adrenalin. Kami berangkat dari Pekanbaru pukul 10 malam, dan sampai dikota padang pukul 5 subuh, kami sampai persis azan subuh dikota Padang.

Pagi terasa cepat. Kami turun didaerah Banda Buat, sekitar 5 menit dari kampus Universitas Andalan. Dengan Kendaraan. Namun Kegilaan kami muncul. Kami menempuh perjalanan 4 kilometer dengan jalan kaki. Untung saja kami tidak mati karena Vertigo. Di Unand pada pagi minggu, masyarakat padang berolahraga disana. Awalnya, niat kami memburu sunrise di rektorat unand. Apa daya, kami mendapati langit mendung. Kami pun banting setir memburu sarapan disekitar kompleks rektorat unand tersebut. Sepulang dari Unand, kami bisa menumpang dengan angkot, atau biasa disebut oplet. Oplet yang kami tumpangi hanya bisa mengantarkan kami hingga simpang Pasar Baru. Dari Pasar Baru, kami agak kebingungan dengan moda transportasi yang akan kami gunakan. Sesuai dengan arahan sang sopir oplet, kami bisa mencapai pasar Banda Buat (Rumah om-nya apid) dengan oplet Biru, tapi sayangnya oplet biru bisa dibilang langka. Memutar otak, kami mencoba untuk menggunakan Grab. Namun kami tergiur dengan promo yang ditawarkan Grab, yaitu Rp.1 untuk layanan pertama yang menggunakan OVO, apapun layanannya. Ketika ingin top up di Atm yang ada dipasar baru, aku kesulitan. Kesulitan bukan karena langkah top up yang susah, tapi karena saldo direkening hanya tinggal 50rb, gabisa dipake. Memutar otak lagi, aku menghubungi Yosi di Pekanbaru untuk minta top up OVO di Alfamart, tapi yosi tidak bisa menolong karena motornya dipakai abangnya. Untuk kalian ketahui, DI PADANG TIDAK ADA ALFAMART DAN INDOMARET. Sementara itu, hujan mulai mengguyur pasar baru. Apid spontan melakukan order grab dengan pembayaran cash ketika hujan sudah lumayan lebat. Driver yang kami dapat agak bingung mencari kami karena nomor yang terdaftar di akun Grab apid adalah nomor papanya. Memang benar-benar pagi yang menggelikan jika diingat. Pagi hampir mati karena vertigo, setelah itu kehujanan, dan kebingungan setelah saling mencari dengan driver grab.

Sesampainya didepan gerbang perumahan om-nya apid, apid baru menghubungi oomnya tersebut. Ketika dihubungi, om apid ternyata sedang menuju ke Pangkalan, sebuah daerah nun jauh setelah kelok 9. Rasanya, dari Pangkalan lebih dekat menuju ke Pekanbaru ketimbang ke Padang. Rencana kami untuk mandi dan beristirahat dirumah om apid tersebut batal. Kesalahannya? Kami berdua tidak menghubungi om apid sebelum hari kedatangan kami di Padang. Such a fuckin day bila diingat, tapi salah kami juga. Akhirnya kami putuskan untuk duduk di Bigmart dekat komplek perumahan tersebut. Untuk info, bigmart seperti minimarket Indomaret dan Alfamart, namun untuk layanan tertentu tidak ada, seperti top up OVO tadi. FYI, top up OVO kami dilakukan di Jogja, ditolong Ridho, teman SMA yang udah kayak keluarga. Keluarga ya, soalnya adik Ridho boleh juga, hehe. Hampir 2 jam kami duduk didepan Bigmart, memutar otak dimana kami harus mandi dan beristirahat pagi itu. Bila kehotel atau penginapan, masih terlalu pagi untuk checkin, lagipula uang dikantong kami tak lebih dari 300ribu. Setelah sekian lama, aku terpikir untuk menghubungi Iqbal, pacar Nabilah adiknya apid. Bukan iqbal pacarnya Nurrani. Kami menghubungi Nabilah terlebih dahulu untuk meminta kontak bg iqbal.Awalnya Nabilah menolak karena sungkan atau entah kenapa. Tapi, akhirnya luluh dan memberikan kami kontak iqbal. Setelah itu, kami menghubungi Iqbal dan menuju kosan Iqbal dengan lokasi yang diberikan via whatsapp. Kosan iqbal ternyata adalah asrama mahasiswa kabupaten yang ada di Padang. Disana ramai, ada sekitar 7-8 orang yang tinggal. Mereka ramah, humble dan sangat welcome terhadap kedatangan kami. Thankyou bang Iqbal and friends.

Bersambung....

You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian