Great Dishes at Padang and Free Ride to PKU

by - 4:37 PM

Padang, terletak dipesisir pantai barat sumatera, memang menyimpan banyak cerita, budaya, dan sejarah. Padang juga surga bagi para penikmat kuliner. Bila bercerita tentang kota "rumah" bagi orang minang ini, maka tidak akan ada habisnya. Hari pertama di Padang sudah aku ceritakan pada post Unforgettable Trip to Padang. Hari kedua di Padang akan aku ceritakan pada post ini.

Hari kedua di Padang, aku coba menghubungi Jamet. Salah seorang teman dikampus. Jamet menyarankan untuk coba menyusuri Kampung Pondok dan Kinol. Dua tempat ini terletak didaerah Muaro, pelabuhan bagi nelayan dikota Padang. Saran tersebut disambut Apid dengan baik. Apid bilang disana memang terdapat banyak spot foto yang bagus. Selain itu, ada tempat yang menyediakan es durian dengan brand yang melegenda. "Ganti nan lamo" vs "Iko gantinyo". Letak outlet mereka berseberangan dan bagiku terkesan unik mengingat nama outlet mereka yang bersambungan.

Petualangan dihari kedua di Padang kami mulai dengan sarapan pagi yang tidak jauh dari mess mahasiswa Kampar, tempat bang Iqbal dkk. tinggal. Tempat kami sarapan terbilang bagus dan bersih. Lokasinya persis diseberang Masjid Raya Padang. Seusai sarapan, kami lanjutkan dengan menyeberang ke Masjid Raya Padang. Masjid Raya Padang memang bukan masjid pada umumnya. Bentuk arsitektur masjid ini unik dan bisa dibilang mengangkat semangat kearifan lokal Padang, yaitu budaya suku Minangkabau. Urang Awakkkkk...

Menara dan ujung atap masjid raya padang


Setelah beberapa menit dimasjid raya padang, kami pun bergegas ke Pondok. Berbekal Grab, kami menyusuri padang dengan driver yang ramah, humble, dan memberikan kami beberapa info tentang wisata yang belum banyak didatang orang dikota Padang. Sepanjang perjalanan, dikiri kanan jalan yang kami lalui, bangunan perkantoran dikota Padang banyak memiliki Gonjong. Gonjong adalah bentuk atap lancip kearah atas. Bentuk atap seperti itu menyimbolkan tanduk kerbau. Karena dimasa lampau, orang-orang dikota Padang, Sumatera Barat pada umumnya, kerbau adalah simbol dari kesejahteraan. Karena masyarakat pada umumnya beternak kerbau. Dari sini kemudian Rendang kemudian menjadi sebuah maskot dalam dunia kuliner Minang.

Driver kamipun mengantarkan kami ke salahsatu tempat makan favoritnya, KIOSK Kinol. Ada dua KIOSK di Padang (setahu saya). KIOSK yang kami datangi berlokasi di Kinol, Muaro. Lokasinya terbilang mudah dicari jika kalian terbiasa dengan lalu lintas kota Padang. Namun, sebaliknya jika tidak tahu lalu lintas, banyak proboden (forbidden) yang akan membuat kalian diklakson klaksonn pengemudi lain.
Tampak dalam KIOSK

Smoking area at KIOSK (Bagian Luar)


Di KIOSK, aku hanya memesan kopi, lupa kopi apa. Rasanya cold Americano. Apid memesan nasi goreng cabe hijau. Rasa kopinya nendang. Seperti rasa americano pada umumnya, namun di part pahitnya, terasa lebih kuat. Aku tidak menanyakan kopi yang aku minum bijinya berasal darimana. Namun di Sumatera Barat sendiri, ada banyak Parak (kebun) kopi, karena selain daerah pantai, Sumatera Barat Juga memiliki daerah pegunungan, gugusan pegunungan Bukit Barisan.

Kami cowo U Mild

Seusai menyantap makan siang, kami punn coba menyusuri daerah Pondok-Kinol dengan berjalan kaki. Kami pun mulai dari persimpangan Kinol. Dipersimpangan Kinol sendiri ada homestay Kinol. Beberapa minggu sebelum keberangkatan kami, aku melihat homestay ini terdaftar di Airbnb. Lokasinya strategis, mungkin kalian bisa jadikan pertimbangan untuk menginap jika ke Padang.

uwuwu
Kamipun coba menyusuri Muaro. Memang daerah Muaro adalah daerah dengan banyak bangunan kuno. Daerah inipun bisa disebut sebagai Kota Tua Padang, atau Chinatown Padang, mengingat disini ada banyak vihara dan pemukiman etnis Tionghoa. Sepanjang jalan, ada saja hal unik yang akan kalian temui. Mulai dari bangunan tua, vihara, hingga bagaimana pelabuhan bekerja sebagai nadi perekonomian masyarakat sekitar.





Seusai berkeliling, kami memutuskan berhenti di outlet Es Durian Ganti Nan Lamo. Sayangnya, baterai kamera habis dan kami pun memutuskan untuk menikmati hidangan yang ada tanpa memotret. Maghrib hampir tiba, kami memesan grab dengan tujuan kerumah om-nya apid. Driver yang kami dapat seorang perempuan Tionghoa Hainam. Dimobil beliau, kami diputarkan lagu rock klasik. Mulai dari White Lion hinnga GnR, ditemani langit sore Padang yang cukup menawan. Sayangnya, kota Padang tak menahan kami lebih lama disana. Kami harus pulang malam itu. Mengingat dana dan jadwal kuliah semester pendek.

Sesampai dari rumah omnya Apid, dan bercengkerama sebentar, kami pun bergegas pulang. Om-nya apid humble, antenya pun cenderung ramah sekali, very welcome. Kami pun pulang ke Pekanbaru dengan mobil Semen yang berangkat ke Pekanbaru. Kami dibawa pulang oleh karyawan om Apid tersebut. Sepanjang jalan pulang, kami pun bercerita bagaimana kehidupan sopir hari keharinya. Cerita yang menarik. Mengingat supir kali ini masih berusia 20 tahun, tapi sudah mengangkut semen sampai ke Aceh dan Lampung dari kota Padang. Sayangnya, kebersamaan kami tersebut tak berlangsung lama. Kami berangkat dari Padang pukul 10 malam, tetapi pada pukul 2, di Lubuk Bangku, sang supir memilih untuk beristirahat disalahsatu warung. Mengingat mengendarai truk besar harus dengan kondisi prima, karena kesulitan mengendarainya berbeda dengan kesulitan mengendarai mobil pada umumnya.

Sesampainya disalahsatu warung di Lubuk Bangku, kami memutuskan untuk duduk sebentar. Mendengar obrolan para sopir disana sejenak. Apid pun berinisiatif untuk menumpang dengan mobil semen lain, tapi nihil. Akhirnya, Apid pun bertanya pada seorang supir dia menuju kemana, dan akhirnya kami menumpang mobil Indah Kargo. Salahsatu perusahaan Kargo regional yang ada disini. Supir tersebut sangat sangat ramah sekali. Sejak pukul 2 hingga pukul 9, kami tidak henti hentinya bicara. Namun yang paling kuingat dari pembicaraan sopir tersebut sangat bijak namun cenderung jenaka. "Hidup ini seperti roda yang berputar memang. Kadang diatas, kadang dibawah. Tapi pastikan ketika sedang dibawah, bannya tidak kempes".

Memang benar-benar perjalanan yang ngehek jika diingat. Mengantongi uang 400ribu dari rumah, dipotong 120rb, kemudian terluntang lantung, seada adanya, dan pulang gratis. Terimakasih bang Iqbal dkk, Julien, Om nya apid, Sopir semen, Sopir Indah Kargo. Semoga bertemu dilain hari, dan saya tidak menumpang lagi. hehe

You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian