Pengetahuan tentang Uang adalah Koentji (1)

by - 4:08 PM

Tahun ini umurku 20 tahun. Aku tahu menulis hal pribadi disini adalah hal yang membosankan, membuat jemu. Tentu saja hal yang menjemukan tidak akan membuahkan hasil apa-apa, selain apa yang menjemukan tersebut, tanpa rasa senang. Sebab, tidak ada orang yang senang dengan hal yang membosankan. Jadi, karena aku tak ingin kalian bosan, aku tulis saja hal yang sedikit punya jarak antara diriku pribadi, yaitu tentang uang. Siapa yang tak senang dengan uang.

"Tapi bukannya kamu itu sosialis?".

Tentu saja aku bukan sosialis. Meskipun akalku kapitalis tulenn, kepedulian sosialku masih tersimpan baik didada. Ayahku punya beberapa biji alat produksi, dan aku tak ingin seperti Friedrich Engels, yang menulis tentang keprihatinan buruh perusahaan ayahnya sendiri. Tentu saja bukan. Kenapa? Karena pekerja ayahku tidak memprihatinkan, tentunya. Mereka teman baikku, kami makan bersama tiap siang dengan pekerja, bila punya waktu luang.

Uang tidak bisa tumbuh tanpa berinvestasi. Uang selalu dibuat kerdil oleh inflasi


Aku berkunjung ke Kuala Lumpur November lalu. Malaysia negara yang tidak terlalu besar secara geografis maupun populasi, namun perekonomian dan kehidupan masyarakatnya bisa dibilang lumayan lebih baik daripada Indonesia. Hampir 10 orang terkaya di Malaysia versi Forbes diisi oleh penduduk malaysia keturunan Tionghoa. Bagaimana ini bisa terjadi?

Desember 2018, temanku punya permainan uang. Permainan yang menyenangkan, aku rasa. Dengan probabilitas keuntungan 50 persen. Forex. Forex, bagi teman-teman yang menjadikan kosanku sebagai basecamp seperti oase di Planet Merkurius. Dalam 3 hari, kami mencetak keuntungan hampi 400 dolar dari 4 akun. Dari kejadian itu, aku berpikir, bagaimana uang bisa bekerja untuk majikannnya? Ternyata uang bisa bekerja dengan hasil lebih banyak daripada manusia bekerja.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dua paragraf diatas aku temukan pada bulan Januari. Uang keuntungan forex aku belikan buku Rich Dad, Poor Dad, karya Robert Kiyosaki. Buku ini memang tidak menjelaskan secara gamblang bagaimana uang bekerja, tapi mengubah mindset menjadi lebih terbuka terhadap investasi dan pengetahuan keuangan. Orang-orang kaya membeli aset, bukan liabilitas. Sedangkan masyarakat kita  saja tidak mampu membedakan mana aset dan mana liabilitas, lantas bagaimana akhirnya?

Masyarakat yang tidak memahami pengetahuan keuangan akhirnya balapan dengan cicilan kredit tiap bulan, biaya hidup, dan pengeluaran tak terduga, ketiga dia hanya bergantung pada satu sumber pemasukan, GAJI. Pun, gaji belum sampai pada tangan pekerja, pemerintah sudah mengambil bagian dari gaji tersebut untuk penghasilan. Bagaimana dengan masyarakat yang melek keuangan? Masyarakat yang cerdas keuangan ini berinvestasi, mengambil resiko dari uang yang mereka punya, untuk membuat uang itu tumbuh dan lebih banyak, sebelum dibakar inflasi.

Pengetahuan ini yang membedakan antara orang kaya dan orang kelas menengah yang terlihat kaya. Hal itu membuat ketimpangan ekonomi semakin menjadi-jadi. Keluarga yang melek keuangan akan menurunkan ilmu pengetahuan tersebut kepada anaknya, namun keluarga yang tidak memiliki pengetahuan ini, anaknya punya dua pilihan, mencari pengetahuan atau selamanya balapan dengan kredit.




Bersambung

You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian