Kesadaran

by - 9:28 PM

Aku ngekos, walaupun jarak antara kampus dan rumah hanya 30-45 menit menggunakan motor, kalau lalu lintas tidak terlalu ramai. Kata ibuku, jangan hanya menghitung uang, resiko dijalan juga harus diperhitungkan. Ya, benar. Orang tua jarang salah, meski kadang bila mereka salah mereka urung untuk mengakuinya.

Aku senang ngekos. Disini tenang, dan tentunya menyenangkan bila aku punya uang. Selain itu, disini banyak tempat yang menyenangkan untuk aku datangi tanpa perlu membuat rencana, toko buku misalnya. Aku senang sekali ke toko buku, apalagi kalau punya uang untuk membeli buku yang sembarang aku pilih ditoko buku tersebut.

Buku bagi aku yang ngekos adalah kemewahan. Bagaimana tidak, harga buku di toko buku jaringan nasional terbesar kadang mendekati ratusan ribu. Tentu saja hal tersebut agak merepotkan bagiku yang punya komitmen keuangan yang sedikit ekstrim. Bayangkanlah tiap minggu harus membayar jula-jula (arisan) dengan nominal seperempat dari uang jajan mingguan. Selain itu, seperempatnya harus aku belikan saham LQ45 di Bursa Efek Indonesia, 2-3 lot setiap minggu adalah kewajiban yang harus aku bayarkan, pada impian kebebasan finansial di masa depan.

Meskipun aku akui, buku juga bentuk investasi. Membaca selain meningkatkan pengetahuan juga bisa membuat emotional quotation seseorang meningkat. Buku adalah investasi. Sebelum aku berinvestasi pada instrumen saham, aku sudah berinestasi pada diriku sendiri, dengan cara membaca. Buku adalah guru yang tidak pernah marah? Itu pepatah jaman dulu. Kini buku memarahimu pada saat kau membelinya, di toko buku, dengan cara menghargai dirinya dengan mahal. Eh, tidak. Orang toko buku yang memarahimu.

Tadi, selepas dari kontrakan teman, tiba-tiba saja aku singgah di toko buku GM. Ketika sampai didalamnya, tiba-tiba saja aku mengingat buku pak Ahmad Tohari, Orang-orang proyek, terbitan 2002. Buku yang kiranya tak lekang oleh waktu, relatable dengan kehidupan pembangunan dan proyek pemerintah. Buku itu bercerita tentang seorang insinyur, mantan aktivis kampus yang bekerja untuk proyek pemerintah. Disana dia mempertaruhkan nuraninya pada masyarakat, mempertahankan ideologi atau ikut dengan skema proyek yang dia kerjakan tersebut. Aku kira akan menjadi buku yang akan menyedihkan bila aku baca.

Disamping buku itu, ada kumcer Ahmad Tohari juga, judulnya Senyum Karyamin. Covernya hampir mirip dengan buku orang-orang proyek tadi, namun fisiknya lebih tipis. Kebetulan ada satu buku yang terbuka sampulnya. Buku tersebut aku buka, aku baca daftar isinya. Ada cerpen berjudul "Ah, Jakarta". Judul yang memorable, sekaligus membuatku tertarik membacanya. Paragraf pertama buku itu langsung membuatku ingin untuk melanjutkannya pada paragraf dibawahnya. Akhirnya aku membaca cerpen tersebut sampai habis, tuntas.

Cerita tersebut menyedihkan. Bercerita tentang "Aku" yang memiliki teman bekerja dan tinggal di Jakarta. Mereka teman yang baik, sahabat sejak masa kecil hingga mereka beranak pinak. Teman tersebut datang dengan kaki yang diperban, baru kecelakaan. "Aku" langsung mengingat bagaimana persahabatan mereka di waktu kecil, yang membuatku hampir menangis. Masa kecil di kampung, jauh dari hiruk pikuk kota, dan tulus, tentunya. Namun, pada akhirnya sang teman tersebut pergi diam-diam dari rumah itu dan meninggalkan pada malam harinya, ketika menginap, sebelum pagi menjelang. Teman tersebut meninggalkan secarik kertas bertulis "Aku tidak ingin merepotkan". Sang "aku" akhirnya mencari temannya tersebut, meskipun pada akhirnya pencarian tersebut hanya berakhir dengan "merepotkan" yang menyedihkan.
Im sorry

Cerita tersebut mengantarkan saya pulang untuk menulis ini, dan sadar betapa aku sudah kehilangan banyak teman.


Bye, bucin life

note: You should read Ahmad Tohari books, whatever the tittle.

You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian