Koboy Kampus, Perlawanan dan Asmara

by - 2:57 PM

Pada buku Laughing at Nothing: Humor as Response to Nihilism (2003), John Marmysz berkeyakinan bahwa ketika seseorang menjadi sasaran dari takdir yang buruk, humor menjadi cara untuk memahami kehidupan. Sejalan dengan itu, filsuf Arthur Schopenhauer menyebut bahwa tawa muncul sebagai persepsi atas ketidaksesuaian antara konsep dan obyek yang nyata. Tirto.id menulis teori diatas beberapa waktu sebelum aku menonton film Koboy Kampus. Mereka yang ada dalam film Koboy Kampus adalah sasaran dari takdir yang buruk, dan pada akhirnya humor menjadi pertahanan mereka dalam In Harmonia Progressio. 


Koboy Kampus

Film ini rilis pada 25 Juli 2019 lalu, Diperankan oleh Jason Ranti sebagai Pidi, Ricky Harun sebagai Ninu, serta dibintangi Bisma Karisma, David John Schaapp hingga Danila Riyadi dan banyak lagi saya hanya hapal semaunya. Oh ya, Koboy Kampus disutradarai oleh Pidi Baiq sendiri dan Tubagus Deddy.

Koboy kampus bukan film biasa, dia hadir seperti pilihan unik diantara film biasa yang ditayangkan pada bioskop kesayangan pemiliknya. Koboy Kampus hadir dalam bentuk yang menggemaskan, sekaligus menghibur dan memberikan sedikit pencerahan bagaimana seyogyanya negara diperjuangkan dalam bentuk kecil-kecilan.

Film ini mengisahkan tentang beberapa mahasiswa FSRD ITB, ketika geliat politik orba pada masa senjanya. Para koboy kampus bukan hanya mencoba untuk menerima nasib mereka memiliki presiden Soeharto, namun perjuangan akademik yang berada di ujung tanduk, kisah cinta yang kandas, namun mereka malah memilih untuk mendirikan negara seluas kelas mereka. Negara mereka bernama The Panasdalam, yang memiliki kepanjangan filosofis yang tidak diduga-duga. Dalam negara seluas kelas tersebut, juga ada kedutaan asing. Mereka juga memiliki lagu kebangsaan, bendera, dan presiden. Hebatnya presiden mereka, presiden mereka hapal semua nama rakyatnya. Karena negara mereka hanya seluas kelas, mereka untuk buang air saja harus keluar negeri. Isu pendirian negara ini kemudian didengar rakyat Indonesia yang berada diluar kelas mereka. Ada yang kontra, ada pula yang ingin bergabung dengan mereka. Benar-benar sebuah pendirian negara yang pelik dan menggemaskan.

Film ini bukan hanya bercerita tentang pendirian negara, didalamnya juga ada drama percintaan khas 90-an. Film ini juga menghadirkan bagaimana pentingnya sahabat dalam menghadapi patah hati. Bagaimana support system benar-benar diperlukan dalam menghadapi kejamnya asmara. Oh iya,  Koboy Kampus juga menghadirkan lagu-lagu The Panasdalam Band, dikemas dalam penampilan apik dari sang bintang utama, Jason Ranti.

Dari sisi akting para pemeran, beberapa aktor maupun aktris dalam film ini kiranya layak diganjar dengan nominasi FFI. Bukan tanpa alasan, seperti Jason Ranti misalnya, meskipun ini film pertama yang beliau bintangi, namun aktingnya memang natural adanya, seperti tanpa beban script yang dibebankan pada pundaknya. Begitu juga dengan aktor lain, meskipun tidak dominan tapi mampu berperan dan perannya seolah-olah memang sebuah realitas yang ada di lapangan. Dari penokohan, juara. Dari sisi sinematografi, film ini mungkin sudah menggambarkan bagaimana kondisi FSRD ITB circa 97-98. Mantap dan color tone nya pas.

Film Koboy Kampus ini kiranya diperuntukkan bagi kaum yang berkuliah pada tahun 90-an, penggemar Pidi Baiq, maupun mereka yang penasaran bagaimana Pidi menggombali negaranya sendiri. Pada akhirnya, saya berpikir film ini bukan lagi menghadirkan sifat defensif atau pertahanan humor dari nasib yang buruk, namun menghadirkan perlawanan pada nasib yang buruk itu sendiri.  Harus kamu tonton.


Ini ada bonus foto kami paska nonton, makasih om satpam mall ska, semoga rejekinya dipatok ayam dan ayamnya kita makan xixi


You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian