Joker dan Jokes

by - 5:44 PM

Ketika aku masih SMA, aku pernah sekelas dengan seorang teman. Setiap hari ke sekolah, dia datang dengan pakaian yang tidak disetrika, kadang rambutnya seperti tidak dikeramas selama seminggu. Dia terlihat aneh dan agak jorok memang, tapi berhari-hari kemudian dia menjadi bintang dikelas, berdebat di pelajaran PKn, mengerjakan soal logaritma dengan cara sendiri, hingga leluconnya yang kadang lucu kadang tidak. Dia seringkali tertawa terlalu kuat, dan lama. Suatu hari, teman-teman dikelas seperti mem-bully nya karna hanya beliau sendiri yang punya pendapat yang berbeda. Pada akhirnya dia menangis, nasib baik aku punya waktu untuk meminta maaf padanya karna aku bagian dari kelas yang merundungnya. Belakangan aku tau dia lahir dari keluarga yang tidak terlalu beruntung. Orangtuanya bercerai. Beberapa bulan lalu, dia menghubungiku karena dia mendengar kabar buruk tentangku. Dia peduli, dan dia begitu adanya. 

Kadang aku berpikir, apa motif dari orang-orang berbuat jahat. Apa karena tersakiti? Tentu saja menjadi korban kejahatan bukan sebuah justifikasi agar bisa berbuat semaunya. Kadang orang bertingkah jahat demi satu hal yang dianggap sepele bagi kebanyakan orang. Supaya dianggap ada. Sehebat itu eksistensi.

Which is crazy because that my clown name. At work until a little while ago, it was like nobody ever saw me. Even i didn't know if really existed.-Arthur Fleck

Ketika film Joker (2019) ini diputar pada bioskop sejak Oktober lalu, orang-orang menjadi melek tentang penyakit kejiwaan. Itu baik, orang akhirnya bisa aware dengan gejala penyakit kejiwaan, meskipun pada akhirnya menelurkan poser yang self proclaimed kalau mereka punya penyakit jiwa. But, kerennya dimana punya penyakit jiwa? Paling tidak, film Joker ini menggambarkan bagaimana rasa sakit jiwa. Pengetahuan tentang psikologi ada banyak didalamnya, bagi mereka yang doyan nonton dan berpikir dalam satu paket.


Joker tayang mulai 2 Oktober lalu di Indonesia

Film Joker ini lebih dari film, dengan twist yang ada, easter egg, dan social commentary yang mantap. Film ini hadir sebagai jawaban dari film DC yang beberapa tahun tenggelam diantara invasi-invasi film Marvel. Meskipun mulai terangkat karena Aquaman, dan Wonderwoman, film ini semakin meyakinkan penikmat DC untuk tetap melihat bagaimana DC akan memukul balik Marvel dalam industri film superhero.

Dari sisi cerita yang disajikan, film Joker ini menampilkan asal usul yang berbeda dari Joker sebelumnya. Todd Philips mereka cerita yang berbeda, unik, otentik, dan rasanya memang merepresentasikan tertawa Joker yang sebenarnya, kepedihan didalamnya. Joker yang ditampilkan juga hadir dengan kejadian-kejadian yang memang membuat siapapun larut dalam kesedihan yang ditampilkan. Rasanya semenit saja memang Joker dalam film ini ndak ada senang-senangnya.

Film ini dibintangi Joaquin Phoenix, sebagai Arthur Fleck, alter-ego dari Joker. Karakter Arthur sendiri bisa dibilang memang menyedihkan. Sedih paling sedih. Film ini juga menampilkan Frances Conroy (Frances Conroy), yang lagi-lagi menyisipkan kesedihan didalam perannya yang mantap. Film ini juga akan menampilkan karakter pendukung yang akan membantu mengantarkan penonton pada suasana Gotham dan Joker yang sebenarnya. Film ini akan membawa penonton untuk hadir di Gotham. Kehadiran di Gotham hanya untuk merasakan kesedihan dan kemarahan yang dialami Joker. Jangan bingung bila nanti dihadapkan dengan pikiran, "Eh aku harus benci apa suka Joker sih ini? Eh ini Joker bener apa ngga sih yang dia lakuinn...". Jangan, jangan terjebak dalam pertanyaan yang demikian Joker ada sebagai villain, musuh dari superhero Gotham, Batman. Juga jangan kaget nantinya kalau menemukan easter egg yang disajikan, ada lumayan. Untuk sinematografi?

Sinematografi yang disajikan bisa diacungi jempol. Gotham dalam film ini memang benar-benar gelap. Benar-benar merepresentasikan kehidupan 1980an, dikota antah berantah yang muram, Gotham. Musik yang dihadirkan lagi-lagi, menambah kepiluan yang diderita Joker. Membuatnya lebih terasa menusuk-nusuk dan menularkannya pada penonton, overall juara. Film ini sangat layak untuk ditonton ditengah kejenuhan menjalani hidup, namun tidak disarankan bagi kalian yang punya masalah kesehatan mental.


You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian