an epilogue of decade,

by - 11:50 PM

Lelaki itu tinggal sendiri dirumah. Rumahnya punya dua kamar, satu kamar mandi, satu dapur dan satu ruangan merangkap ruang tamu dan ruang keluarga-meskipun tidak ada keluarga disana. Pada ruang tamu sekaligus ruang keluarga tersebut, televisi menyala dari semalam. Televisi itu nyaris tak pernah absen untuk menyala. Saban hari, ia menyala. Televisi itu seperti memberi tanda, dirumah itu masih ada kehidupan. Televisi itu seperti punya kekuatan magis, mengusir sepi dari rumah itu.
Ada yang tumbuh, ada yang berkembang. Tapi semua mati kecuali siapa hayo


Lelaki yang tinggal sendiri itu meringkuk dikamar. Satu kamar ia gunakan untuk menyimpan barang atau perkakas yang hanya sesekali dipakai, seperti joran pancing, velg bekas hingga kasur kapuk yang tak lagi ia gunakan karena takut mengganggu pernafasan. Satu kamar lagi dirumah itu digunakannya untuk tidur dan seperti kamar pada umumnya, ia tinggali. Dikamar itu, ia lebih sering menghabiskan harinya untuk berpikir sendiri, dan membiarkan televisi itu asik sendiri dengan listrik yang disedotnya.

Disamping lelaki yang sedang meringkuk itu, ada asbak yang penuh dengan abu dan puntung rokok kretek yang ia habiskan. Rokok itu seperti lebih mengenal bagaimana tekstur bibir lelaki itu daripada tekstur bibir lelaki itu dikenal oleh mantan kekasihnya, meskipun mantan kekasihnya tersebut sudah mengencani lelaki itu lebih dari tujuh tahun.

Sudah pukul sepuluh pagi, lelaki itu belum bangun. Mungkin karena semalam ia memang tidur agak lambat, atau mungkin karena obat tidur yang ia minum lebih banyak daripada biasanya. Lelaki itu masih tidur, meskipun televisi diruang tengah sedang menayangkan infotainment, berita tentang artis yang kini dibuih karena diduga menjual diri.

Telepon genggam lelaki itu tiba-tiba berdering.

"Halo, siapa?".
"Ini saya Nindy dari housekredit bapak memberitahukan bahwa pinjaman bapak hari ini akan jatuh tempo. Mohon bapak untuk segera melakukan pembayaran".
"Pala bapak kau aku ngutang".
"Tapi benar bapak, disini tertera bapak melakukan peminjaman pada tanggal 28 bulan lalu senilai tiga juta rupiah".
"Ndak tau aku. Pokoknya aku ndak ada ngutang ngutang sama kalian kapitalis pepek".
"Maksud saya tadi bapak selaku orang yang terdekat dengan teman bapak yang melakukan peminjaman bapak".
"Bapak bapak kau lah".

Percakapan itu diakhiri lelaki itu dengan mematikan sambungan telepon. Dia baru saja bangun. Masih mengumpulkan nyawa. Lelaki itu berusaha tidur lagi.

Ketika lelaki itu berusaha tidur lagi, kecemasan datang padanya seperti melakukan penawaran dan permintaan. Kecemasan itu meminta ketenangan dan menawarkan kebahagiaan sesaat sebagai gantinya. Lelaki itu cemas, bagaimana bila ia mati siang nanti ketika ia belum sempat untuk mandi wajib dan solat zuhur. Lelaki itu cemas lagi apabila ia mati sendiri dirumah itu tanpa diketahui siapapun, hanya bersama puntung rokok dan tv yang menyala tanpa henti. Lelaki itu cemas bila ia mati tanpa diketahui siapapun, lalu mayatnya membusuk disana. Dia berpikir, ibunya dikampung akan sedih sekali. Maka ia meraih telepon genggamnya lagi, menelpon ibunya, dan minta diingatkan solat zuhur nanti. Ibunya kaget, karena ibunya tahu solat jumat saja lelaki itu tidak.

"Mamak kayaknya harus nabung lebih giat lagi, yung..".
"Ngapa, mak?".
"Biar mamak bisa umroh cepat, takut nanti ndak kesampaian. Kayaknya kiamat udah dekat. Kau sekarang solat".
"Yaudahlah, mak. Aku resign ajalah dari agama ni biar kiamat makin lambat".
"Padahal mamak udah nabung buat kau umroh juga sama mamak".
"Buat DP mobil aja mak duitnya. Biar aku narik gocar nanti aku antar mamak ke bandara kalau umroh terus aku dapat duit dapat poin".
"Kau kan dah banyak dapat poin pas di sekolah dulu..".
"Mamak ni ngungkit-ngungkit hehhh..".

Kecemasan lelaki itu kemudian hilang bersama guyona bersama ibunya.

Seusai menelepon dengan ibunya, lelaki itu kemudian merasakan sakit pada kakinya. Ternyata kakinya lecet karena semalam menggaruk terlalu kuat. Punggung kakinya kini lecet, perih bila disentuh. Ia kemudian teringat tiga hari lalu ketika mengambil jambu milik tetangganya, kakinya dihinggapi ulat bulu.

"Ulat bulu anjing", lelaki itu setengah berteriak.

Ia kemudian pergi ke ruang tengah, disamping tv yang tengah menyala tersebut, ada box obat-obatan ringan yang sudah ia siapkan sejak bulan lalu setelah betisnya mengenai knalpot panas motor jadul miliknya. Ketika televisi itu menyala, tayangan berita sedang mengabarkan tentang perusahaan asuransi yang dipailitkan karena gagal membayar polis para nasabahnya. Lelaki itu berpikir bahwa bos asuransi adalah orang paling hebat sekaligus paling nekat. Bos asuransi, pikir lelaki itu, punya kemampuan membaca sekaligus meramalkan masa depan, dengan taruhan uang triliunan rupiah beserta aset perusahaannya. Mirip perjudian yang ia lakukan semasa kuliah.

Lelaki itu kemudian mematikan tv, berharap tv itu bisa beristirahat sejenak sebelum nanti menjalankan tugas mulianya lagi, mengusir sepi.

Tak lama, lelaki itu memutar musik di komputer miliknya. Komputer itu terbilang cukup berumur untuk 2019. Ia memutar lagu Radiohead - Fake Plastic Trees, lagu paling kiri dengan fans kanan yang militan. Tiba-tiba lelaki itu berpikir tentang radikalisme dan radikal bebas. Lelaki itu bingung, apa radikalisme dan radikal bebas punya keterkaitan satu sama lain, apa sebaliknya. Pikirannya itu kemudian dibuyarkan oleh notifikasi chat facebook, messenger dari teman lama yang mengundangnya untuk datang ke pernikahannya. Teman lamanya itu dulu awalnya pemabuk, penjudi, tapi entah mengapa mendadak mudah saja hijrah paska bergabung dengan salah satu organisasi. Lelaki itu kadang berpikir bagaimana rasanya dicuci otak, dan membenci diri sendiri di masa lalu. Agak mengerikan bila dipikir-pikir.

Ternyata, pesan yang masuk itu tidak cuma satu. Ada pesan lain yang dikirimkan oleh pamannya yang ada di Belanda, tentang legalisasi ganja. Pamannya ini dulu aktivis kampus medio reformasi, lalu mengambil studi master di Belanda, namun tak kunjung pulang. Katanya ingin mengisap ganja dengan tenang saja di Belanda ketimbang makan Nasi Padang di Indonesia. Pesan dari pamannya itu sederhana. Pamannya berpesan untuk jangan jadi pecandu narkoba, jadi orang jatuh cinta saja, nikmatnya sama.

xixi.


Di ujung hari, lelaki itu hanya bisa berdoa semoga dimasa depan ia bisa ngopi dengan tenang, dengan rokok yang cukup, uang yang selalu ada dan berlimpah, serta keluarga yang sehat dan menyayanginya, Meski malas ibadah, apa salahnya berdoa? Bukannya dia maha penyayang?
Tapi apakah doa itu akan dikabulkan? Lelaki itu hanya mikir sukak sukak tuhanlah mo ngabulkan atau ndak. Situ panitia hari kiamat? Rupanya lelaki itu teringat video yang viral beberapa waktu lalu.

Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.-Pram, House of Glass

You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian