Mencintai Kampus beserta Problematika didalamnya

by - 12:27 PM

Beberapa waktu lalu, ketika sibuk mencari kos-kosan baru, menggantikan kos yang setia saya tinggali selama dua setengah tahun, saya menghubungi seorang teman yang tengah menikmati cuti kuliah via whatsapp. Pada awalnya, obrolan kami hanya berputar-putar tentang kos maupun kontrakan yang akan kami cari. Namun obrolan kami sampai pada kondisi internal kampus yang menaungi kami dua tahun terakhir. Obrolan itu lebih kepada keluhan teman ini tentang kondisi kampus yang begitu-begitu saja. Tentu siapapun ingin jadi lebih baik, dalam hal apapun. Siapa saja ingin.

kampus tercinta lagi demo ama kampus lainnya


Teman yang tengah nun jauh di Jakarta ini mengeluh, betapa kampus kami terkesan terlalu konservatif ditengah revolusi industri 4.0 yang sering dijadikan tagline seminar nasional. Teman ini merasa malu melihat pass masuk kampus hanya berupa kertas yang dicetak lalu di laminating tanpa mempertegas legalitas. Untung saja teman ini tidak tahu bahwa pass yang dicetak itu hanya ratusan biji ketika kendaraan civitas akademika mungkin lebih dari ribuan kendaraan. Kalau saja dia tau betapa tidak berfungsinya pass masuk itu, saya pikir dia akan jadi figur yang mencemooh lebih kuat ketimbang tokoh ajo sidi dalam cerpen Robohnya Surau Kami, karya A.A. Navis, orang kampung teman ini juga. Mengeluh itu wajar. Masalah itu wajar. Malah bila ada orang yang tidak bermasalah, saya agak yakin bahwa orang itulah masalah dan menjadi akar dari segala masalah.

Setelah saya pikir-pikir kawan tersebut, rasa malunya kurang beralasan, juga tidak dapat dipahami sebagai rasa malu yang umum. Orang-orang dengan bangga-nya membuat instastory pass masuk tersebut, kok. Mereka terlihat bangga, dan membuat pass masuk itu serupa dengan kopi puluhan ribu yang mereka beli dengan mengunggahnya di instastory.

Kalau saya boleh menyatakan cinta, saya amat mencintai kampus saya ini, dengan segala kejadian pelik didalamnya. Bagaimana tidak, ketika kampus lain menolak saya di SNMPTN dan SBMPTN, kampus saya ini menerima saya dengan sepenuh hati meskipun diletakkan pada pilihan ketiga SBMPTN. Meskipun penerimaan itu bersyarat, dokumen administratif dan UKT lima yang dibebankan pada orang tua yang profesinya sebatas petani.

Tiap kali bicara tentang kampus, saya hampir selalu ingat twit Pidi Baiq bertahun-tahun lalu, sebelum Dilan dikenal semua orang di Indonesia, dan twit saya sesekali dibalas Pidi Baiq. Beliau bilang “Apapun kampusmu, itu adalah kampusmu, tetap yang terbaik. Orang-orang harus tahu, semuanya adalah romantisme, dan sisanya perjuangan”.

Saya berpikir, kampus saya adalah kampus terbaik yang boleh saya masuki. Bagaimana tidak, dengan ijasah SMA negeri di Kampar, yang alumninya hanya masuk ke kampus negeri sebelah atau kampus swasta dipinggir kota, mana mungkin saya bisa masuk universitas negeri top ten indonesia dengan fasilitas instagrammable buat para mahasiswanya. Saya rasa tidak mungkin. Ditambah lagi semasa SMA saya beberapa kali berurusan dengan bimbingan konseling sekolah, tentu akan mengecilkan kemungkinan yang saya sebutkan diatas. Buktinya, ditolak mentah-mentah sama kampus negeri di Jogja, yang konon mempelopori Gejayan Memanggil, namun ternyata anak didik dari organisasi binaan salah satu politisi. Hiks.

Namun setiap kali saya bilang kampus tempat saya berkuliah, orang kampung saya hampir selalu memuji dan bilang saya hebat, entah mungkin orang kampung saya yang mentok mentok masuk kampus negeri sebelah, atau setamat SMA langsung menjadi buruh di pabrik sekitar kampung, entahlah. Tapi jujur, saya bangga dengan almamater yang saya kenakan, warnanya cukup instagrammable.

Saya berpikir, barangkali persoalan pelik yang ada didalam kampus sebagai perjuangan dan patut diperjuangkan agar masalah tersebut dapat diselesaikan. Anggaplah kehilangan kendaraan dalam kampus tersebut sebagai ujian, atau katakanlah pelajaran agar dapat berhati-hati dalam memarkirkan kendaraan. Asumsikan jugalah KRS-an tengah malam, namun server down hingga subuh sebagai latihan agar di dunia kerja dan jadi budak kapitalis sudah terlatih lembur hingga subuh, anggap saja. Anggap jugalah persoalan lahan yang bersengketa sebagai tempat belajar memahami kontrak, memahami peradilan, kasasi, dan tahu betapa peradilan di negeri ini memang lama dan berbelit adanya. Wisuda? Wisuda di kampus saya mengajarkan sempit-sempitan, mengganggu perkuliahan yang tengah berlangsung, tenda pesta, pedagang kaki lima dan sampah yang berserakan setelahnya adalah bagian dari kultur bangsa kita.

Eh maaf bang ndak sengaja do aku bilang wisuda.

You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian