Hidup adalah Sia-sia, dan Kita Harus Mencari Makna dalam Hidup

by - 8:43 PM

Then I awake and look around me
At four gray walls that surround me
And I realize I was only dreamin'



Saya lupa kapan pertama kali mendengarkan lagu Tantowi Yahya. Ingatan paling kuat ya ketika beliau menjadi host di kuis Who Wants to be A Millionaire, semasa saya kecil. Meskipun saya tidak tahu sama sekali dengan pertanyaannya pada peserta di masa itu, tapi saya menikmati bagaimana orang-orang pintar mendapatkan uang dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di kuis tersebut. Saya pikir di masa itu, saya juga harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kuis tersebut, atau ikut acara tersebut, mendapat uang, dan masuk tv tentunya. Impian yang hanya impian, karena kuis tersebut tidak tayang lagi.

Sekitar dua tahun lalu, saya tinggal bersama teman, ngekos bareng. Awalnya kos-kosan itu tidak dilengkapi wi-fi, namun tiga bulan setelah kami tinggal disana, wifi dipasang oleh pemilik kosan tersebut. Lantas setelah dipasang wifi, kami streaming youtube sesuka hati. Mendengar lagu-lagu yang ada di youtube sepanjang kami bisa mendengarkannya, sambil ngobrol atau mengerjakan tugas kuliah. Tiba-tiba saja ketika itu, teman ini meminta untuk memutar lagu Tantowi Yahya. Wah, saya pikir saya sudah  lama sekali tidak mendengarkan lagu beliau. Diputarlah lagu "Hidupku Sunyi", konon teman ini dulu bila pulang kampung dari Jakarta ke Pekanbaru, sepanjang jalan pulang di bus Lorena mendengarkan lagu-lagu Tantowi Yahya. Nostalgia yang menarik, saya pikir. Mengingat hari-hari kuliah penuh rutinitas yang agak suram, cerita tentang masa kecil terasa menyenangkan. Tentu saja.


dont worry abt the cost, kata tom waits
Bagaimana hidup begitu-begitu saja? Tidak ada yang berubah. Semuanya hanya rutinitas yang berulang tanpa henti, dan diujung hari yang didapati hanya diri yang melamun sepi. Membayangkan hal-hal yang mungkin sulit terjadi, lalu beberapa saat kemudian sadar hal itu bukan hanya sulit, namun juga mustahil. Realitas mengoyak-ngoyak lamunan itu dengan tumpukan tugas, tagihan listrik dan cicilan rumah, dan anak yang susunya hampir habis. 

Kadang, saya hanya bisa menghayal, bagaimana bila hidup ini hanya mimpi belaka? Ketika mati nanti, rasanya hanya seperti bangun dari tidur, lalu pintu kamar dibuka oleh seseorang yang sudah duluan mati sambil berkata, "Kamu kok lambat kali sih bangunnya? Aku nungguin loh". Lalu disodorkan kopi dan rokok kretek. 

"Kamu kok lama tidurnya?", ditanya lagi. 
"Hmmm, anu, tadi aku mimpi enak banget. Dalam mimpiku semua orang bisa makan dan hidup dengan damai".

"Bukankah hidup hari ini memang seperti itu?".

You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian