Film Still Walking dan Betapa Repotnya Tidak Normal

by - 10:20 PM

Saya senang sekali menonton film drama. Selain karena banyak berisi nilai-nilai kehidupan lewat jalan cerita dan dialognya, film drama seringkali memberikan banyak perspektif tentang sebuah masalah. Film Still Walking ini kemudian membuat banyak pandangan pada masalah keluarga kemudian menjadi apasi haha.


lagi makan bersama
Itadakimasss


Apa rasanya 24 jam bersama keluarga yang saling tidak enakan satu sama lain? Kata lainnya, slek lah. Ya, 24 jam. Bagaimana rasanya? Film ini bercerita tentang keluarga yang kehilangan anak sulung yang bernama Junpei, 12 tahun lalu karena tenggelam menyelamatkan orang lain. Keluarga itu masih punya dua anak lagi, Ryota dan Chinami. Ryota kemudian menikahi seorang janda beranak satu. Ayah, ibu dan adik Ryota kemudian menganggap menikahi janda adalah bentuk kesialan, meskipun ibu dan adik Ryota selama 24 jam bersama istri Ryota ini bersikap hangat. Hal lain yang membuat Ryota kemudian dianaktirikan adalah keinginan Ryota untuk tidak menjadi dokter. Ryota lebih memilih bekerja di bidang seni lukis, bukan menjadi dokter seperti keinginan ayahnya. Mereka 24 jam bersama setelah sekian lama tidak berkumpul, saling bicara yang kurang mengenakan dan mereka berusaha melaluinya dengan dialog-dialog yang memang bisa kita temui dalam kehidupan nyata. Alur film ini pelan, pelan sekali, namun bagi saya pribadi tidak membosankan karena terasa riil, terasa menyimak percakapan yang nyata, bukan di film. 

Pada akhir film ini, saya sedih. Sedih karena ternyata memang orang tua menaruh banyak harap pada anak. Harapan itu kemudian punya dua sisi yang sama-sama kita ketahui, senang atau kecewa. Film ini membuat harapan berujung kekecewaan, yang kemudian mengantarkan keluarga itu pada 24 jam paling panjang dan mengesalkan seumur-umur.

Apa keluarga memang harus memaksa kita menjadi orang lain? Maksud saya harus berjalan di jalur yang sudah ditentukan? Bersyukur, saya punya previlege untuk bebas menentukan jadi apa, sejauh ini. Saya takut, takut bila nanti keinginan saya untuk membahagiakan orang tua menjadi tidak pernah terwujud karena urusan waktu. Takut sekali. Kita tak pernah tau hidup akan berlangsung sampai kapan, entah setahun lagi atau hingga minggu depan, tidak pernah tau. Saya pikir yang terpenting dalam film ini bukan tentang menuju atau menjadi apa, tapi tentang waktu, berapa lama. yang kita punya untuk memastikan harapan-harapan kecil menjadi kenyataan. Setidaknya, harapan kecil. Bila harapan besar berujung rasa kecewa.

Tidak ada orang tua yang ingin anaknya hidup susah, saya yakin. Karena tidak ingin susah itu, orang tua barangkali berbuat diluar kewajaran, bertingkah tidak terlalu menyenangkan, dengan harapan anaknya bahagia di masa depan, saya paham hal tersebut. Ryota di film ini misalnya, orang tuanya meminta ia menjadi dokter agar pekerjaannya terjamin, setiap saat akan ada saja orang yang sakit dan tentu saja profesi dokter selalu dibutuhkan ketimbang restorasi lukisan. Namun, apa Ryota akan lebih bahagia memegang stetoskop didepan pasien yang murung atau merestorasi lukisan? 

You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian