Film Seperti Dendam: Lebih dari Cinta Ajo Kawir

by - Wednesday, December 08, 2021

Film yang ditunggu tahun ini tentunya adalah film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, atau disingkat Seperti Dendam. Diangkat dari novel Eka Kurniawan, penulis kenamaan. Film ini disutradarai Oleh Edwin, yang tempo waktu berhasil dengan apik menyajikan film Posesif. Mulanya film ini direncanakan tayang lebih awal, namun karena pandemi film ini dibawa keliling dulu dari festival satu ke festival lain, dan baru ditayangkan di bioskop Indonesia sejak 2 Desember 2021 lalu.

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Menonton film ini, tidak ubahnya seperti menyimak ironi masyarakat pedesaan medio 80-an, meskipun ditahun begitu kehidupan saya belum dimulai. Tentu saya tahu bagaimana hidup dimasa itu dari film tempo dulu, kaya sastra, atau cerita dari semua orang yang saya temui. Meskipun ya, kehidupan tahun 2000an awal dikampung saya tidak jauh berbeda dengan Kampung Bojongsoang di film ini. Orang-orang menggunakan jaket parasut kusam, berkendara tanpa helm, warung yang ada kotak jamu Bersalin Sehat, dan tentunya kuasa ABRI yang aduhai. Saya diantarkan setup film ini menjauh dari Plaza Senayan tempat kami menonton, menuju Bojongsoang yang terlihat damai namun disesapi kebengisan para penagih dendam dan rindu.

Saya tidak paham begitu banyak tentang teknis film. Hanya penikmat sok tahu dan mengisi kemerdekaan dengan menulisnya, dengan kemampuan terbatas pula. Saya menikmati banyak film lokal maupun luar yang bagus. Bila saya diberi kewenanngan untuk memberikan akreditasi pada film, rasanya film keluaran Palari Film layak diberikan akreditasi A. Namun sayangnya, siapapun boleh punya selera apa dan bagaimana. Film adalah seni, dan seni semestinya dibuat sebebas mungkin. Namun film Seperti Dendam adalah film bagus yang semestinya ditonton apabila anda cukup umur dan tidak punya trauma terhadap hal-hal yang disajikan didalamnya.

Sebelum menonton film ini, saya sudah membaca novelnya dua kali. Pertama, ketika kelas dua SMA. Kedua, ketika semester tujuh. Tahun lalu. Meskipun novel dan film adalah sama-sama karya seni, namun saya yakin keduanya berbeda. Setidaknya dalam penerimaannya pada seseorang. Misalnya, film adalah upaya-upaya visualisasi kejadian atau peristiwa, maka karya sastra tidak menawarkan visual serupa. Karya sastra adalah cerita tekstual sebagai pengantar pada imajinasi pembacanya. Bagus atau tidaknya karya sastra adalah tentang struktur teks dan kemampuan pembacanya berimajinasi lewat struktur teks tersebut. Maka saya selalu berupaya untuk tidak berekspektasi lebih pada film yang diangkat dari bacaan yang sudah saya tamatkan. Tidak berekspektasi bukan berarti tidak berharap sebuah film bagus. Tidak berekspektasi berarti membebaskan filmmaker untuk memvisualisasikan teks kedalam bentuk audio video. Kenapa mestinya kita bebaskan? Visual tidak sebebas seseorang mengarang. Ada hal-hal yang terpaksa dibatasi visualnya, namun ada visualisasi yang mengalahkan teksnya. Film seperti Dendam Bagaimana? Tergantung sejauh mana imajinasi terhadap kejadian yang dialami Ajo Kawir dan Iteung. Tapi bagi saya, visual film ini seperti judulnya, dibayar tuntas. Bila dilihat lebih jauh, film ini membawa pesan lain dan lebih jauh dari sekedar adu beringas antar aktor maupun aktris. Film ini mampu memberikan visual yang apik. Bagaimana kita seolah-olah diantarkan menuju Bojongsoang yang penuh dengan orang-orang yang kebingungan bagaimana menyeimbangkan kasih sayang dan kebengisan. 

Potret orang-orang didalamnya adalah potret bagaimana hidup mesti berjalan dan dilanjutkan dengan segala keperihan. Ajo Kawir, misalnya. Barangkali di Bojongsoang, akses terhadap pekerjaan tidak memadai, dan hobi Ajo Kawir yang dapat tersalurkan dengan maksimal hanya berkelahi. Meskipun pada akhirnya Ajo Kawir coba-coba berwirausaha sebelum hobinya itu mengantarkannya pada fase hidup yang jauh dari kata beringas. Berdamai dengan diri sendiri. Iteung juga, jadi begitu barangkali karena kejadian traumatisnya. Namun, Iteung tidak mendapatkan keadilan atas trauma yang dialaminya. Ketimbang hidup dalam penyesalan dan merasa diri tidak berharga, Iteung memilih jadi lebih kuat. Berlatih bela diri dan menjadi jagoan yang diperhitungkan. Meskipun Iteung jadi beringas dan tidak memberi ampun siapapun yang dihadapinya. Trauma Iteung kemudian mempengaruhi jalan cerita hidupnya bersama Ajo Kawir. Kita boleh saja berdecak kagum dengan visual dan adegan perkelahian di film ini, tapi jangan lupa pada tema-tema yang dibawakan. Misalnya, toxic masculinity milik Ajo Kawir. Ajo Kawir yang mengidap impotensi harus membuktikan bahwa ia tidak boleh menangis, bersikap jantan dengan melakukan kekerasan. 

Saya selalu bilang Novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas milik Eka Kurniawan sebagai novel yang ma'rifat bila dibawa kedalam ilmu tasawuf. Novel ini bukan lagi bicara tentang bagaimana teknis, atau bagaimana sesuatu bekerja. Lebih dari itu, novel ini bertutur. Film Seperti Dendam juga demikian. Ia bercerita lebih jauh ketimbang teknis. Menit-menit yang dilewatkan agaknya bernas dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar seksualitas dan kejahatannya, kebengisan orang dan dendamnya, kesalahan dan kematian orang-orang didalamnya. Sebab dan akibat semua yang terjadi dikemas dengan penuh makna dan nilai. Realitas sosial juga diejek habis-habisan dalam film ini. Dia memotret bagaimana fenomena Penembak Misterius alias Petrus. Fenomena ini kemudian menghabisi banyak orang dalam kurun 1983-1985. Memberikan penjelasan tentang bagaimana sesuatu dan akibat sesuatu terjadi dengan mengolok-olok masyarakat yang cenderung hipokrit.



You May Also Like

0 komentar

ABOUT ME

About Me

IRFAN HIDAYAT YUSMARTIN

Living life and peace

Kampar, Indonesia

Kolom Pencarian